Man Jadda Wa Jada, Kesungguhan Untuk Berkurban

kurban dsh
 

Man Jadda Wa Jada, sebuah ungkapan yang mulai sering terdengar dalam kehidupan kita. Sepenggal kata sakti yang memiliki makna yang kuat dan mampu memberikan semangat dalam kehidupan kita. “Siapa yang bersungguh-sungguh, akan berhasil”, begitulah arti ungkapan Arab ini. Man Jadda Wa Jada ini memanglah bukan hadits, tetapi sangatlah sesuai dan selaras dengan sunnatullah. Sebuah ketetapan yang mengisyaratkan manusia bahwa Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum selama kaum tersebut tidak berusaha merubahnya sendiri.

Kata kunci dalam pepatah ini ialah jadda atau bersungguh-sungguh.
Jadi, sejauh mana Anda sudah mengaplikasikan pepatah ini ialah sejauh mana Anda bersungguh-sungguh.

Beberapa waktu yang lalu kita pernah mendengar sebuah kisah nyata yang sangat menggugah diri kita. Dan bahkan bisa jadi kisah tersebut menjadi pelajaran tentang kesungguhan dan tekad yang baik untuk kita.

Kisah seorang nenek yang memiliki keyakinan dan kesungguhan yang sangat tinggi untuk melaksanakan ibadah Kurban di Hari Raya Idul Adha, dengan segala keterbatasan yang beliau miliki.

Yati (60), seorang nenek yang tinggal di Tebet, Jakarta Selatan ini bukan orang kantoran atau tinggal di rumah gedongan. Yati hanya seorang pemulung, tiap hari mencari sampah untuk mengais rizki yang halal.

Meski pendapatannya tak seberapa, hanya Rp 25 ribu per hari, Yati punya tekad kuat untuk bisa berkurban di Hari Raya Idul Adha. Niatnya itu akhirnya bisa tercapai tahun ini.

“Saya nabung tiga tahun untuk beli dua ekor kambing. Yang besar itu saya beli Rp 2 juta, yang kecil Rp 1 juta,” kata Yati saat berbincang dengan merdeka.com di rumahnya.

Yati tiap hari dibantu Maman (35). Kadang untuk menambah penghasilan, Maman ikut menarik sampah di sekitar Tebet. “Penghasilan sehari tak tentu. Seringnya dapat Rp 25 ribu. Dihemat untuk hidup dan ditabung buat beli dua kambing itu,” kisah Yati.

Yati mengaku sudah seumur hidup ingin berkurban. Wanita tua asal Madura itu malu terus mengantre daging kurban. Keinginan ini terus menguat, saat bulan Ramadan. Yati makin giat menabung.

“Saya ingin sekali saja, seumur hidup memberikan daging kurban. Ada kepuasaan, rasanya tebal sekali di dada. Harapan saya semoga ini bukan yang terakhir,” jelasnya.

Yati membeli dua kambing itu di Pancoran. Maman yang mengambil dua kambing itu dengan bajaj dan memberikannya ke panitia kurban di Masjid Al-Ittihad, Tebet, Jakarta Selatan. Saat Maman menyerahkan dua kambing untuk kurban itu, jemaah masjid megah tersebut meneteskan air mata haru.

Yati sehari-hari tinggal di gubuk triplek kecil di tempat sampah Tebet. Tak ada barang berharga di pondok 3×4 meter itu. Sebuah televisi rongsokan berada di pojok ruangan. Sudah bertahun-tahun TV itu tak menyala.

Yati mengaku sudah lama tinggal di pondok itu. Dia tak ingat sudah berapa lama membangun gubuk dari triplek di jalur hijau peninggalan Gubernur Legendaris Ali Sadikin itu. “Di sini ya tidak bayar. Mau bayar ke siapa? ya numpang hidup saja,” katanya ramah.

Setiap hari Yati mengelilingi kawasan Tebet hingga Bukit Duri. Dia pernah kena asam urat sampai tak bisa jalan. Tapi Yati tetap bekerja, dia tak mau jadi pengemis.

“Biar ngesot saya harus kerja. Waktu itu katanya saya asam urat karena kelelahan kerja. Maklum sehari biasa jalan jauh. Ada kali sepuluh kilo,” akunya.

Pembaca buletin Hidayah, sepenggal kisah di atas kembali mengingatkan kita tentang bagaimana keyakinan seseorang kepada Allah dan kerja keras akan memberikan hasil yang indah.

Kembali kepada Man Jadda Wa Jada yang dikaitkan dengan pelaksanaan ibadah Kurban. Kesungguhan seseorang tidak hanya sebatas satu raihan duniawi saja, salah satunya yang lainnya adalah keputusan kita untuk melaksanakan ibadah Kurban tahun ini.

Kesungguhan Itu Perlu Langkah Nyata

Bismillah kita tancapkan niat untuk ikut memberikan amal terbaik kita dan harta kita dengan melaksanakan ibadah Kurban. Namun, jika kita masih suka mengatakan “tapi” sebagai dalih tidak berusaha, artinya belum ada kesungguhan dalam diri kita. Mungkin dalih yang kita sampaikan itu benar, tetapi tetap saja kita belum benar-benar memiliki azzam untuk berkurban.

Jika memang bersungguh-sungguh, maka akan selalu ada jalan untuk mendapatkan rejeki yang datangnya kitapun tidak mengetahui dari mana. Yang jelas Allah akan memberikan petunjuknya bagi mereka yang berniat dan membulatkan tekad dengan bekerja dengan keras.

Setiap kita memiliki waktu yang sama, yang membedakan adalah bagaimana memanfaatkan waktu itu sebaik mungkin. Ada yang telah mempersiapkan Kurbannya setahun sebelumnya. Dengan menabung sedikit demi sedikit atau membeli bintang kurban dan kemudian dipelihara untuk tujuan berkurban.

Bukan kemudian setelah hari sudah dekat dan harga hewan kurban telah meroket maka kita kebingungan mencarinya. Walhasil ibadah kurban terlewatkan dengan dalih hewan telah habis terjual atau biayanya tidak menyukupi untuk membeli.

Kiat Mempersiapkan Kurban

 

Dosen Fakultas Tarbiyah, Dr. Syabuddin Gade, MA dalam lamannya menyebutkan ada beberapa kiat dalam mempersiapkan kurban. Pertama, kiat pada diri sendiri sebagai orang yang mau berkurban dengan membangun dalam batinnya dan memperteguh imannya. Dengan ada iman maka akan menjadi batu loncatan untuk melakukan segala sesuatu yang diperintah Allah. “Tetapi bukan iman yang hanya sekedar ucapan. Tapi harus dilakukan dalam bentuk tindakan nyata,” katanya.

Kedua, kesempatan yang ada. Bagi orang yang sudah mampu jangan lagi menunda-nunda. Karena makna “mampu” itu sangat sederhana. Ada kelebihan harta seharga hewan kurban, itu sudah dianggap mampu melaksanakan qurban. Sikap menyia-nyiakan atau menunda ibadah qurban bagi yang mampu, dikecam oleh Rasulullah sebagaimana sabda “Barangsiapa mempunyai kelonggaran (harta), namun ia tidak melaksanakan kurban, maka janganlah ia mendekati musallaku (masjidku)” (HR. Ahmad, Ibnu Majah).

Ketiga, berkurban dengan cara arisan atau patungan dengan teman-teman. Kalau merasa belum mampu berkurban sendiri, maka kita boleh berkurban dengan cara menabung. “Kalau ada keinginan dan mau untuk berkurban pasti ada jalan keluarnya dengan sedikit demi sedikit menabung,” papar Syabuddin

Syabuddin juga menambahkan, manfaat berkurban bukan hanya dirasakan orang yang berkurban, tetapi juga bagi orang lain yang tidak mampu. Bagi orang yang berqurban dia akan mendapatkan pahala dari Allah. Berkurban dengan tulus mengharapkan ridha Allah, maka qurbannya itu akan menyertainya nanti sampai hari akhirat. Seperti sabda Rasulullah SAW, “Tidak ada amal yang dilakukan oleh anak Adam lebih disukai oleh Allah di hari qurban selain mengalirkan darah (menyembelih kurban). Sesungguhnya kurbannya itu di hari kiamat akan datang menyertai bani Adam dengan tanduk-tanduknya, bulunya dan kuku-kukunya. Dan darah kurban tersebut anak menetes di suatu tempat (yang diridhai) Allah sebelum menetes ke bumi, maka sempurnalah kurban itu,” (HR. At-Tirmizi).

Jika ada keyakinan, kemauan dan kesungguhan dalam berusaha usaha pasti Allah akan memberikan kemudahan rezeki dari tempat yang tidak disangka-sangka,” tegas Syabuddin.

Rabb yang mampu meninggikan langit, menghamparkan bumi dan mencukupi seluruh makhluq yang menghuni dintara keduanya, sungguh maha mampu mencukupi mulut manusia yang hanya beberapa senti ini. Jika kita merasa, Dia tidak mencukupi kebutuhan kita, maka yang sesungguhnya adalah kitalah yang tidak mengetahui apa yang kita butuhkan. Inilah tabiat manusia. Bahkan sekiranya Allah memberinya 2 lembah emas, dia akan memintanya 1 lembah lagi. Begitu seterusnya… “Sesunguhnya Allah mendindingi manusia dan hatinya, dan hanya kepada-Nyalah kita akan dikembalikan”. (tnh)

Iklan

Tentang triananurhandayani

motherhood
Pos ini dipublikasikan di islam dan tag , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s