Hubungan antara Harapan, Ikhtiayar, dan Tawakal

 

 Harapan merupakan keniscayaan bagi setiap manusia. Namun, ketika jika kita telah memiliki sebuah harapan, maka kita harus berusaha sekuat mungkin untuk mewujudkan apa yang diharapkannya, dan usahanya inilah yang disebut dengan ikhtiyar.

 Setelah ada ikhtiyar, maka dia harus tawakal (pasrah). Pasrah bukan berarti, harapan tanpa usaha, karena tawakal hanya akan ada setelah ikhtiyar. Dan ketika seseorang lupa dengan tawakal setelah ber-ikhtiyar, maka kemungkinan besar dia akan jatuh, dan berujung pada sebuah keputus-asaan.

 Banyak kasus yang terjadi di sekitar kita. Seperti banyak caleg atau calon bupati yang menjadi stres bahkan menjadi salah satu penghuni Rumah Sakit Jiwa karena gagal mewujudkan harapan mereka. Inilah bukti jika ikhtiyar tanpa diiringi dengan tawakal kepada Allah swt.

 Selain iktiyar dan tawakal maka harus ada doa, karena doa tanpa usaha adalah omong kosong, sedangkan usaha tanpa doa adalah sebuah kesombongan.

 Banyak yang merasa bisa melakukannya tanpa bantuan orang lain saja itu sudah merupakan bagian dari arogan. Apalagi jika sudah menghapuskan do’a dalam kamus usahanya maka dia sudah tidak mengakui keberadaan Allah, jatuhnya menjadi musyrik. Na’udzubillahi mindzalik.

 Allah pemilik segalanya, dan hanya Dialah yang akan mengabulkan segala permintaan para hamba-Nya. Jika Surga saja bisa kita minta, maka hal-hal yang bersifat keduniawian sangatlah mudah bagiNya. Tetapi ada 2 hal yang harus kita sadari tentang do’a adalah:

–       Dikabulkan dengan seketika, yaitu ketika seorang hamba berdoa kemudian Allah mengabulkan doa tersebut dengan seketika, atau dalam kurun waktu yang tidak lama.

 –       Allah tidak memberikan apa yang tertera dalam doa tersebut. Namun, Allah menggantinya dengan sesuatu yang jauh lebih baik. Bukankah Allah Maha mengetahui apa yang diketahui hamba-Nya dan apa yang tidak diketahuinya.

 Boleh Nggak Sih Putus Asa?!

 Putus asa bukan hal yang dilarang, namun jangan sampai seseorang terbuai dan terjerumus dalam keputus-asaan, hingga dia lupa untuk bangkit kembali, dan membangun kembali harapan-harapan baru dan lebih berusaha lagi. Rasulullah saw juga pernah mengalami keputus-asaan, namun beliau langsung bangkit dari keputus-asaannya.

 Ingat, keberhasilan seseorang bukan dilihat dari berapa banyak dia berhasil, tapi dilihat dari berapa banyak dia bangkit dari kegagalannya.

Harapan Umat Islam

 Sebuah harapan pasti bagi umat Islam saat ini adalah PERSATUAN. Saat ini bukan era mencari celah perbedaan antara satu dengan yang lainnya, tapi sekarang waktunya mencari benang persamaan, bersatu, menyamakan langkah, karena musuh-musuh Islam kini telah menyerang umat Islam, dan kita harus bersatu, bahu-membahu membela agama Allah. Inilah harapan suci yang akan terwujud jika semua berikhtiyar, berdo’a dan bertawakal kepada Allah swt dengan sungguh-sungguh.

 

Tentang triananurhandayani

motherhood
Pos ini dipublikasikan di isla dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s