Harapan, Ambisi dan Angan-angan

 Dalam sebuah forum seorang Ustadz menyampaikan bahwa, “Jika kalian memiliki sebuah harapan atau mimpi, itu ibarat sedang (maaf) kebelet BAB”. Apa yang akan kita lakukan jika sudah sangat ingin menunaikan “hajat” tersebut? Pasti kita akan dengan segera “mencari jalan” untuk menyelesaikannya. Beliau mengibaratkan mimpi atau harapan yang kita miliki seharusnya menjadi semangat untuk melakukan hal-hal yang akan memuluskan terwujudnya mimpi atau harapan kita. Sebesar apapun harapan-harapan yang kita miliki. Sekali lagi, tidak ada yang bisa menghalangi kita untuk berharap.

 Pun dalam kita melakukan tindakan-tindakan untuk mewujudkan harapan-harapan kita. Semua orang boleh menganggap harapan kita “tidak masuk akal” tapi jadikan itu sekedar bunga-bunga dalam kita melangkahkan kaki untuk menjemput harapan itu. Tidak dijadikan sebagai penghambat bagi diri kita.

 “Ah itu tidak mungkin”, atau “Mana bisa, kamu saja seperti itu”. Nah, kata-kata negatif yang masuk dalam diri kita secepatnya segera ‘usir’. Jika kita berfikir seperti itu maka yang terjadi adalah kata “tidak mungkin dan tidak bisa”. Padahal tidak ada yang tidak mungkin dan tidak bisa bagi Allah swt.

 Ibarat kata, “Menjalani kehidupan tidak semudah membalikkan telapak tangan, tapi tidak juga sesulit menaklukkan puncak Himalaya.” Jadi, dalam mengarungi bahtera kehidupan ini, ada satu nilai yang tak boleh padam dalam diri setiap insan, yaitu HARAPAN.

 Agama Islam, dengan berbagai warna syari’atnya, selalu menekankan para mukallaf untuk memiliki harapan. Harapan itu harus selalu ada, bahkan ketika seseorang menghadapi sakaratul maut pun harus tetap memiliki harapan, harapan akan rahmat Allah dan maghfiroh-Nya. Dalam Al Quran dijelaskan bahwa, harapan itu berbanding lurus dengan keimanan, apabila ada iman maka ada harapan, dan apabila tidak ada iman maka tidak akan ada harapan. Karena orang yang berputus asa diidentifikasikan sebagai orang tidak percaya akan kekuasaan Allah swt.

 Muslim dan Harapannya

 Harapan membangunkan setiap insan untuk mencapai cita-citanya. Harapan ini dimulai dari angan-angan yang tergambar dalam benak seseorang. Lalu apakah setiap angan-angan adalah harapan yang harus diperjuangkan, terutama bagi seorang muslim? Sesuatu yang bisa menjadi harapan setiap muslim adalah sesuatu yang bersumber dari hati nurani, ditimbang dengan akal, serta disandarkan kepada Sang pemberi harapan, Allah SWT.

 Jadi, tidak semua angan-angan yang muncul di benak seorang muslim bisa menjadi harapan, tapi harus di-tadabbur-i dan dipertimbangkan terlebih dahulu.

 Misalnya: seseorang yang berangan-angan untuk berkecimpung dalam dunia politik, namun harapannya digunakan bukan untuk hal-hal yang baik dan membangun, tapi untuk mendapatkan materi dan kedudukan tinggi di mata manusia. Memang harapannya bagus, tapi ini salah, karena tidak bersumber pada hati nurani, bahkan dari nafsunya.

 Rasulullah saw telah banyak mengajarkan umatnya untuk memiliki harapan. Seperti yang telah terjadi ketika Rasulullah saw hijrah ke Thaif dan tak seorang pun yang mau menerima beliau, padahal beliau membawa sesuatu yang paling baik di dunia yaitu Islam. Namun, mereka mengecam Rasulullah saw, bahkan mengusir beliau dan melempari beliau dengan batu hingga Rasulullah saw terluka. Dan pada saat itu malaikat datang menghibur Rasulullah saw dan berkata: “Wahai Rasulullah, kalaulah engkau bersedia, aku akan menimpa mereka dengan dua gunung yang mengapit kota Thaif, agar mereka binasa.” Namun, Rasulullah saw menjawab: “Jangan! Aku memiliki harapan yang besar terhadap mereka, dan keturunan mereka, bahwa suatu saat nanti mereka akan beriman kepada Allah SWT.”

 Dari siroh di atas jelas digambarkan akan besarnya ketegaran serta kesabaran Rasulullah saw dalam menyampaikan risalatullah, meskipun harus menghadapi pukulan, lemparan, hinaan, dsb. yang datang bertubi-tubi menghujam Rasulullah saw. Beliau tak pernah putus asa, bahkan terus menaruh harapan besar terhadap mereka.

 Memang banyak riwayat hadits yang menyebutkan tentang larangan berangan-angan. Maksud dari yang dilarang disini adalah angan-angan yang terlalu tinggi, karena Rasulullah saw takut umatnya lupa akan akhirat. Jadi, perlunya keseimbangan antara dunia dan akhirat.

 Harapan dan Ambisi

 Harapan dan ambisi hanya berbeda tipis. Ambisi merupakan gambaran dari keinginan atau harapan yang besar, terletak pada diri manusia, yang dapat diarahkan dan dikendalikan dengan baik, namun harapan dalam ambisi  harus terpenuhi. Jadi, orang yang mempuyai harapan belum tentu dia memiliki ambisi, namun ketika seseorang memiliki ambisi pastilah dia memiliki harapan.

 Harapan dan ambisi terhubung dengan optimisme, yang membuat seseorang berusaha, yakin dengan usahanya, dan berharap apa yang diusahakan terwujud secara optimal. Lalu bagaimana seorang muslim harus berambisi?

 Tentunya harapan dan ambisi seseorang pastilah mengarah, entah kepada dunia atau kepada akhirat. Rasulullah saw bersabda: “Sebaik-baik perkara itu adalah pertengahannya.”

 Jadi, seorang muslim harus meletakkan ambisinya dalam keadan i’tidal atau seimbang, yaitu seimbang antara dunia dan akhiratnya. Jangan sampai cenderung hanya pada salah satunya saja, yakni, terlalu berambisi pada dunia hingga lupa akhirat, atau bahkan sebaliknya, terlalu berambisi pada akhirat hingga lupa dunai. Allah SWT telah mengajarkan hamba-Nya untuk menyeimbangkan antara dunia dan akhirat.

Ambisi berbeda dangan ambisius, karena ambisius adalah dorongan dan tekad untuk mencapai harapan serta cita-cita yang diinginkan dengan menempuh berbagai cara, tanpa melihat baik dan buruknya jalan tersebut.

 Sampai disini bisa disimpulkan bahwa ambisi memiliki dua sifat, yaitu:

 1. Sifat Negatif.

Yakni, ambisi untuk mencapai harapan dan cita-cita dengan menghalalkan segala cara, inilah yang disebut dengan ambisius.

 2. Sifat Positif.

Yaitu, ambisi yang disertai dengan doa dan tawakal. Jadi, seseorang berusaha kemudian disertai dengan doa, dan di akhir usahanya dia ber-tawakal dan pasrah kepada Allah dengan segala usahanya. Sebuah pepatah menyebutkan: Man purposed and God disposed (manusia yang berencana, Allah yang menentukan segalanya).

Sekarang, coba kita coba untuk menyusun harapan-harapan itu. Karena bisa jadi setiap harapan yang kita susun bisa menjadi do’a bagi diri kita. Selama membuat harapan itu gratis, mengapa kita tidak memiliki harapan yang tinggi? (berbagai sumber)

Tentang triananurhandayani

motherhood
Pos ini dipublikasikan di isla dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s