Menjadi Insan Yang Disapa Ramadhan

Ramadan Kareem

Marhaban Ya Ramadhan, bulan Ramadhan kembali datang. Seluruh umat islam memasuki bulan yang penuh barokah ini. Setiap orang mengharapkan kebaikan bulan Ramadhan dapat menyapa mereka. Ternyata tidak semua umat islam yang dapat menikmati bulan ini, belum tentu mendapatkan keberkahannya.

Ramadhan berasal dari kata akar, yang berarti panas yang menyengat atau kekeringan, khususnya pada tanah. Dari kata akar tersebut kata Ramadan digunakan untuk menunjukkan adanya sensasi panas ketika seseorang itu kehausan. Pendapat lain mengatakan bahwa kata Ramadan digunakan karena pada bulan itu dosa-dosa dihapuskan oleh perbuatan baik, sebagaimana matahari membakar tanah. Hal ini dikiaskan dengan umat Islam yang mengambil kesempatan Ramadan untuk serius mencairkan, memuhasabah diri dan memperbaharui kekuatan jasmani, rohani dan tingkah lakunya.

Bulan Ramadhan adalah bulan kesembilan dari urutan 12 bulan yang di sisi Allah sejak Dia menciptakan langit dan bumi, juga sesuai urutan yang telah ditetapkan oleh Umar bin al-Khathab ra.

Allah Ta’ala berfirman, yang artinya : “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu,” (QS. Al-Taubah: 36).

Bulan yang Allah pilih untuk menurunkan Al-Qur’an di dalamnya. Allah Ta’ala berfirman, “Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).” (QS. Al-Baqarah: 185).

Pada ringkasnya, bahwa bulan Ramadhan menjadi nikmat bagi orang mukmin dan bencana bagi orang fajir dan munafik.

Ramadhan Yang Merubah

Selama satu bulan perjalanan Ramadhan tentu banyak harapan yang muncul dalam diri kita. Salah satu harapan itu yaitu perubahan baik secara kognitif, afekti bahkan behavior.

Perubahan kognitif, yaitu bagaimana kita memandang kehidupan ini. Kepekaan sosial, kesabaran, kesederhanaan dsb yang dengan itu pada hakekatnya mengajarkan kita untuk bisa menjadikan hidup lebih berkualitas.

Perubahan afektif yang muncul dalam bentuk toleransi, kepedulian terhadap orang lain serta empati kepada sesama. Yang semua itu kemudian bermuara pada perubahan behavior, ketika kita mengulurkan tangan untuk berbagi kepada sesama.

Sangat penting bagi kita untuk mengetahui apakah kita termasuk orang yang disapa oleh Ramadhan. Setidaknya ada indikasi setelah Ramadhan itu berlalu, beberapa parameter yang bisa dijadikan tolak ukur pada diri kita.

  1. 1.     Menjadi Orang yang Ikhlas

Puasa Ramadhan menggembleng kita dalam mengikhlaskan niat, dimana puasa Ramadhan hanya dilakukan untuk Allah semata, sebagaimana disebutkan dalam hadits: “Setiap amal anak Adam akan dibalas berlipat ganda. Satu kebaikan akan dibalas 10 kali lipat sampai 700 kali lipat. Allah berfirman: “Kecuali puasa. Puasa ini untuk diri-Ku dan Aku akan membalasnya (dengan pahala tanpa batas). Dia meninggalkan syahwat dan makanannya demi diri-Ku….” [Shahih Muslim: 1151]. Inilah esensi ajaran tauhid, menghindarkan diri kita dari Riya’.

  1. 2.     Semakin Ringan dan Nikmat Dalam Melakukan Amal Ketaatan

Puasa Ramadhan juga menempa seseorang untuk meningkatkan kadar keikhlasan ibadahnya. Karena di dalam puasa, hamba tidak dituntut sekedar menahan makan, minum dan syahwat semata, tapi juga lisan dan hatinya dari ketidaksabaran atau dari amal yang tidak bermanfaat.

“…Jika pada suatu hari salah seorang dari kalian sedang berpuasa, janganlah melakukan rafats (seperti berbicara porno atau keji) dan tidak juga membuat kegaduhan. Jika ada orang yang hendak mencaci atau menyerangnya, hendaklah ia (bersabar dan) berkata: ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa…” [Shahih Bukhari:IV/88]

Dan ini sudah barang tentu membutuhkan tingkat keikhlasan yang lebih. Karena dengan keikhlasan seadanya, sangat sulit untuk mampu menghindar dari larangan-larangan semisal dalam hadits di atas. Jika berhasil maka kita telah mendapatkan fadhilah Ramadhan.

  1. 3.     Semakin Jauh dari Maksiat

Ini karena puasa adalah tameng yang membentengi hamba dari perbuatan maksiat. Sebagaimana hadits Rasulullah saw:

“Wahai sekalian anak muda, barangsiapa di antara kalian telah mampu, maka hendaklah ia menikah, karena menikah itu lebih menundukkan pandangan dan lebih tangguh memelihara kemaluan. Barangsiapa belum mampu, maka hendaklah ia berpuasa karena puasa bisa menjadi perisai baginya (dari kemaksiatan).” [Shahih Bukhari: IV/106 dan Shahih Muslim: 1400 dari sahabat Ibnu Mas’ud].

Maka jika keadaan Anda lebih jauh dari maksiat jika dibandingkan dengan kondisi Anda sebelum Ramadhan, maka ber-husnuzzon-lah kepada Allah, bahwa Anda telah meraih fadhilah Ramadhan.

  1. 4.     Cinta pada al-Qur-an

Orang-orang yang disapa Ramadhan akan bertambah rajin membaca al-Qur-an di luar Ramadhan jika dibandingkan dengan waktu sebelum Ramadhan. Karena bulan ini adalah “Bulannya al-Qur-an”, tiada hari tanpa membaca al-Qur-an. Sehingga kebiasaan mulia ber-wirid dengan tilawah al-Qur-an tentunya akan tetap berlanjut setelah Ramadhan.

  1. 5.     Menjadi Dermawan dan Loyalitas Sesama Muslim Semakin Kokoh

Hikmah puasa memberikan kita kesempatan untuk merasakan penderitaan kaum dhuafa’ dan fakir miskin. Dari sini diharapkan tumbuh kesadaran sosial yang tinggi dengan menyantuni mereka, menyayangi serta meringankan beban mereka. Kewajiban zakat fithrah di akhir Ramadhan juga mengajarkan hal ini. “Barangsiapa memberi makan kepada orang yang berbuka puasa, maka baginya pahala orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun.” [Ahmad: IV/114-116, shahih menurut at-Tirmidzi: 804]

  1. 6.     Do’a yang Terkabul

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya bagi orang yang berpuasa, punya satu kesempatan do’a yang tidak akan ditolak pada saat ia berbuka.” [Hadits Shahih, Ibnu Majah: I/557]. Jika do’a yang Anda panjatkan saat Ramadhan menjadi kenyataan, maka ucapkanlah kalimat syukur, kemudian Anda boleh berharap dengan yakin, bahwa Anda telah meraih fadhilah Ramadhan.

  1. 7.     Semakin Mendalami Ilmu Agama

Boleh dibilang ini adalah indikasi terbesar bagi seorang hamba yang telah meraih kesuksesan bulan Ramadhan. Dan Allah jika menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya yang terpilih, Dia terlebih dahulu akan mempersiapkan hamba-Nya tersebut untuk memahami ilmu agama, sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam: “Barangsiapa dikehendaki baginya kebaikan oleh Allah, Maka Dia akan memberikan pemahaman agama kepadanya.” [Shahih Bukhari: 71 dan Shahih Muslim: 1037]

Logikanya; jika Anda sukses menjalani Ramadhan, maka Anda pasti akan menjadi orang yang disapa Ramadhan, menjadi lebih bertakwa karena kebaikan yang diberikan Allah pada kita.

Akan tetapi, perubahan tersebut tentu kita inginkan tidak hanya ketika bulan Ramadhan saja karena pada hakekatnya orang-orang yang disapa ramadhan adalah orang-orang yang memiliki bekas (red:perubahan) di 11 bulan ke depan. Perubahan itu tetap ada meski kita telah menjadi alumnus Ramadhan. Semoga kita termasuk orang-orang yang nantinya akan disapa Ramadhan. Aamiin.

Tentang triananurhandayani

motherhood
Pos ini dipublikasikan di isla dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s