Cerpen dari inspirasi seorang adik

DSCN0045 - Copy

Hati Kania

 

Sedetik aku lihat sosok di depanku,  aku masih takut untuk melihatnya apalagi terus memandang  wajah dan binar matanya. Aku tahu ia melihatku lekat-lekat disertai senyumannya yang membuatku semakin tidak berdaya. Sungguh, mungkin di dunia ini akulah perempuan yang sekarang ini merasakan perasaan yang tidak menentu. Tidak terasa air mataku menetes karena perasaan yang aku sendiri sulit untuk mengartikannya.

Kubiarkan engkau menghapus air mataku, bukannya berhenti justru linangan air mataku semakin deras. Kau siapkan dadamu untuk aku sandarkan kepalaku namun dengan tegas aku menolaknya.

“Ada apa sayang, kenapa engkau menangis?” tanyamu sesaat setelah ku lepas genggaman tangannya. Aku hanya terdiam sambil terus berjalan dalam kisah masa laluku. Ingatanku memberikan gambaran tentang episode-episode perjalananku di waktu yang lampau.

== 1 Januari 1997==

“Kania, kenapa sih kamu masih enggan membalas surat dari Doni? Aku yakin Doni sangat menyukai kamu, bahkan setiap hari ia selalu nitip salam buat kamu..” Fira teman sekelasku sekaligus teman sejak kecilku sedang gencar-gencarnya ‘nyomblangi’ aku dengan Doni. Saat itu aku masih memakai seragam putih biru, akhir masa untuk memasuki SMA.

“Fir, setiap kali ketemu pasti itu yang kamu tanyakan.., sudahlah aku pusing!” jawabku sekenanya. Fira sangat semangat membuat agar  aku dengan Doni sang ketua OSIS ‘jadian’, ganteng sih tapi tidak tahu kenapa ada sisi lain yang membuatku enggan untuk meng’iya’kan ajakan Fira. Padahal setahuku Doni adalah anak yang jadi ‘wanted’ di sekolahku, banyak yang  sekedar dekat dengannya atau bahkan ingin menjadi yang ‘special’ untuknya.

==1 Januari 2000==

Kania dulu dengan Kania sekarang masih sama seperti dulu, selalu enggan dan takut untuk membicarakan cerita-cerita tentang  teman-teman dan pacar-pacar mereka. Sesekali terlintas juga, mungkin enak juga ya kalau ada yang sayang dan perhatian terus memanggilku dengan sebutan “Pacarku sayang..”. Weits..selalu saja ada ser-seran dalam hati jika kilatan nakal dalam kepala ini melintas liar. Apa ini?

Selama hampir 3 tahun di SMA ini entah sudah berapa teman lelaki di kampung atau disekolah yang sering datang ke rumah. Berbagai polah tingkah mereka untuk menawarkan dirinya untuk menjadi seseorang yang lebih sekedar teman . Sekali lagi jika aku tergoda untuk ingin mengatakan “Iya” ada saja hujaman keras dalam hati yang tiba-tiba membuat bibirku terkunci dan menggerakkan kepala ini untuk menggeleng.

==1 Januari 2013==

Jam 10.00 pagi saat rumah ramai rendah dengan kesibukan mereka, aku duduk manis di kursi yang telah mereka siapkan dengan riasan seadanya. Kursi pelaminan yang sengaja disewa oleh Bapak untuk pernikahanku pagi ini. Bapak sangat luar biasa suka citanya menyambut hari ini, penantian panjang  untuk melihatku seperti ini, penantian terhadapku mengatakan “Iya” untuk satu hal yang sangat berat untukku, penantian untuk Bapak  bisa ‘ewuh manten wedhok’. Kania yang telah berusia 30 tahun dan yang terakhir diantara teman-teman sebaya baru menikah saat ini. Hingga kudengar sayup-sayup dari Masjid depan rumah.. “Saya terima nikah dan kawinnya Kania Subroto bin Harto Subroto dengan mas kawin tersebut tunai!”.. dan semua yang hadir mengatakan ‘Sah’!

Kania yang dingin terhadap laki-laki, Kania yang dulu selalu enggan untuk dekat dengan hura-hura remaja kini telah resmi menjadi seorang istri. Istri dari lelaki yang dibawa Bapak dari rumah temannya, lelaki yang katanya pewaris dari salah satu Rumah Singgah untuk anak-anak miskin di kota ini. Teman Bapak adalah orang yang  sangat suka mengabiskan uangnya untuk membangun rumah-rumah sederhana yang kemudian dijadikan tempat tinggal sekaligus rumah singgah bagi anak-anak tidak mampu dan terlantar. Anaknya inilah yang jadi guru sekaligus bapak angkat bagi anak-anak tersebut yang sekarang juga telah menjadi suamiku.

Setelah semua tamu satu persatu berpamitan pulang dan rumah berangsur-angsur sepi, Bapak dan Ibu menyilahkan kami beristirahat. Jam 22.30 saat kami berdua memasuki rumah belakang yang disediakan untuk kami. Kami duduk beristirahat, sangat lelah dengan seremonial seharian tadi. Kang Restu, nama lelaki di depanku ini. Sangat sholih, sopan dan sangat menghargai Bapak dan Ibuku  yang hanya penduduk di kampung kecil ini. Lelaki yang tadi pagi melakukan aqad nikah dengan Bapakku tadi pagi. Lulusan Al Azhar, Kairo, Mesir sebuah Universitas tertua. Tidak tampan tapi sangat manis sedang menatapku lekat, “Ada apa sayang, kenapa engkau menangis?” sesaat aku lepaskan genggaman tangannya.

“Tidak apa-apa, Kang?” jawabku sambil terus sesenggukan. “Tapi mengapa engkau menangis seperti itu, kamu kecewa menikah denganku? Bukankah kita baru menikah 12 jam yang lalu? Adakah kesalahan yang  telah aku lakukan padamu atau bahkan kepada keluargamu?” Kang Restu merasa bingung dengan sikapku.

“Kang, bukan kamu yang salah dan bukan karena aku kecewa dengan pernikahan kita..” sambil kutenangkan hatiku dan ku hapus air mata yang membanjiri kedua pipiku. “Aku sangat bahagia dengan pernikahan kita, aku sangat mensyukuri ini semua..” jawabanku justru semakin membuat Kang Restu bingung. “Lalu kenapa engkau melepaskan tanganku dan semakin menangis?”

“Kang, sungguh aku sangat bahagia hingga aku tidak sengaja saat melepaskan tanganmu. Coba Akang lihat kaligrafi itu, itu kaligrafi yang ku buat saat aku masih kelas 3 SMP. Kaligrafi itu yang membuat hatiku selalu berontak saat aku tergoda ingin bersama-sama teman menikmati hura-hura remaja. Allah telah menjawab do’a-do’aku selama ini”

Kang Restu melihat ke arah Kaligrafi buatanku yang sudah mulai usang warnanya, “Bukankah itu kaligrafi sebuah ayat?”

“Betul Kang, itu kaligrafi Surat An-Nur 26”. Jawabku dengan senyuman penuh haru dan kebanggaan.

Tentang triananurhandayani

motherhood
Pos ini dipublikasikan di bunda dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s