Masa BerKurban?

Masa BerKurban?

Ada seorang Bapak mengatakan: “Mbak jatah pulsa sebulan saya habis 800 ribuan lho, karena harus banyak sekali bisnis dan para relasi…”.

Ada juga seorang Ibu yang bangga mengatakan: “Saya itu mbak, setiap bulan uang bulanan untuk anak-anak saja habis satu jutaan….”.

Seorang Bujang beda lagi: “Untuk biaya ‘ngapel’ dan makan-makan, setiap malem mingguan saya menghabiskan 300rb berdua dengan teman perempuan saya”.

Tetapi ketika satu-satu ditanya sudahkan mereka ikut Kurban atau kapan terakhir Kurban? Jawab mereka? Si Bapak beda lagi: “Dulu saya sudah pernah mbak, kan kalau sudah sekali tidak wajib lagi kan?”

Si Ibu mengatakan: “Aduh mbak, kapan ya? Saya belum ada rencana tuh?”

Dan Mas Bujang menjawab: “Wajib ya mbak? belum ada bayangan kie?”

Begitulah reaksi dari beberapa orang saat ditanya tentang ibadah Kurban yang sebentar lagi akan datang. Untuk berbagai hal di dunia saja mereka sangat royal mengeluarkan harta mereka, tetapi untuk menyisihkan sedikit saja untuk berkurban, bagi mereka terasa masih sangat berat. Pertanyaannya adalah “Ada tidak masa Kurban di hati mereka?” atau membiarkan bulan Kurban ini berlalu begitu saja.

Dari ‘aisyah RA, “Tiada suatu bentuk ibadah yang dilakukan manusia pada hari qurban yang lebih baik dan dicintai Allah dari pada menyembelih hewan qurban. Sesungguhnya hewan qurban yang telah dipotong kelak pada hari kiamat akan datang lengkap dengan tanduk, rambut, dan kukunya.dan sesungguhnya darah hewan qurban telah diterima Allah sebelum mengalir ke tanah”. (Riwayat Ibnu Majah)

Salah satu janji Allah bagi umat yang mau berfikir. Bahkan yang lebih keras ancamannya bagi orang yang mampu tapi tetap enggan untuk berkurban adalah “Barangsiapa yang memiliki kemampuan namun tidak berkurban, maka jangan sekali-kali mendekati tempat shalat kami”. (Hadits Riwayat Ahmad, no.8256; Ibnu Majah, no. 3123)

Ketika Allah memerintahkan Nabi Ibrahaim AS untuk menyembelih putranya Ismail yang kemudian dikenal dengan ibadah kurban, sedikitnya ada empat pihak yang terlibat di dalamnya. Mereka adalah Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, Siti Hajar (ibu Ismail) dan syetan.

Tiga pihak pertama adalah mereka yang sedang diuji kesabaran dan keimanannya oleh Allah, sedangkan pihak keempat adalah yang menggoda untuk membatalkan niat suci mereka. Ismail tidak betul-betul disembelih, karena diam-diam Allah menggantinya dengan seekor domba. Penghambaan total ketiga manusia pilihan itu kemudian diperintahkan kepada umat Nabi Muhammad untuk berkurban dengan menyembelih sapi, kerbau, kambing atau unta.

Peristiwa kurban memiliki nilai bahwa kehormatan makhluk terletak pada pengorbanan. Manusia yang merelakan hartanya untuk dikorbankan bagi kemaslahatan kehidupan, maka ia menjadi manusia terhormat. Manusia yang merelakan dirinya untuk kepentingan kemanusiaan adalah manusia terhormat. Manusia yang mengorbankan status sosialnya, jabatannya dan kekuasaannya untuk kebaikan orang banyak adalah manusia yang mulia di hadapan Allah dan umat manusia.

Demikian juga dengan hewan. Hewan yang mati dan dagingnya dimanfaatkan untuk kepentingan manusia, tentu “kehormatan”-nya berbeda dibandingkan dengan hewan yang mati sia-sia, kemudian menjadi bangkai. Demikian juga dengan hewan-hewan lainnya. Ikan-ikan di lautan tentunya lebih terhormat ketika mati dalam pancingan atau jaring nelayan yang kemudian dagingnya dimakan oleh manusia.

Islam mengajarkan umatnya untuk menjadi manusia mulia lewat beragam ritual keagamaan. Islam mengajarkan bahwa hidup itu bukan untuk dirinya sendiri. Zakat, sedekah atau kurban adalah bentuk-bentuk ibadah yang di dalamnya mengajarkan umat Islam untuk tidak bersenang-senang sendiri. Lewat perintah itu, Islam mengajarkan bahwa kemuliaan hidup muncul ketika ia bermanfaat bagi kehidupan. Islam menegaskan bahwa sebaik-baik umat adalah mereka yang banyak bermanfaat bagi yang lainnya.

Karena itu, peristiwa-peristiwa tertentu yang memerintahkan umat Islam untuk berzakat atau berkurban adalah sarana pendidikan yang aplikasi sesungguhnya adalah seumur hidup. Islam memerintahkan umatnya untuk selalu berzakat, bersedekah dan berkurban selama hayat bersemayam di dalam jasad.

Karenanya, perintah Islam itu tidak boleh hanya dimaknai secara momentum belaka. Kurban hanya dilakukan hanya saat musim haji. Berderma dengan harta hanya dilakukan saat bulan puasa. Bukan sekedar itu. Peningkatan kehormatan itu tidak sepatutnya hanya menunggu momen-momen tertentu sebagaimana yang disyariatkan agama. Zakat, sedekah, kurban itu diharapkan selalu diaplikasikan dalam keseharian dan selalu setiap saat.

Siapa Berkurban?

Dr. Amir Faisol Fath menyampaikan bahwa ibadah kurban disyariatkan oleh Allah dalam surat Al Kautsar: fashali lirabbika wanhar (maka shalatlah kamu dan berkurbanlah). Kata wanhar adalah bentuk perintah, tetapi maksudnya adalah sunnah muakkadah, menurut mayoritas madzhab fikih. Imam Abu Hanifah menegaskan bahwa hukumnya wajib. Istilah wajib dalam pandangan madzhab Hanafi maksudnya sederajat di bawah fardhu. Maka sangat di makruhkan meninggalkannya bagi seorang yang mampu dan mempunyai kelebihan harta. Dalam riwayat Imam Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa Rasulullah saw. sendiri menyembelih dua kambing berwarna putih kehitam-hitaman dan bertanduk. Al Mundziri menyebutkan dalam kitabnya At Targhib wat tarhib sebuah riwayat yang mengandung ancaman bagi yang tidak berkurban, padahal ia mampu: man kaana lahuu sa’ah walam yudhahhi falaa yaqrabanna mushallaanaa (orang yang memiliki kemampuan tetapi ia tidak berkurban maka janganlah sekali-kali mendekati tempat shalat kami) (HR. Hakim dan disahihkannya). Imam At Turmidzi meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. ketika ditanya tentang hukum berkurban, menjajawab: sunnatu abiikum Ibrahim (ini sunnah ayahmu Ibrahim).

Maka mari kita mulai niatan kita untuk berkurban, berdoa kepada Allah agar diberikan kelapangan rejeki dan hati agar kita bisa melakukan ibadah kurban sepanjang tahun. Memberikan sesuatu kepada orang lain saja harus yang baik,maka beri jasad kita, ruh kita dengan yang terbaik pula. Dengan amalan ibadah yang Allah sangat memuliakannya.

Semoga kita bukan termasuk orang yang menyia-nyiakan waktu dan rejeki yang Allah berikan kepada kita. Wallahualam bishowab

Tentang triananurhandayani

motherhood
Pos ini dipublikasikan di isla, Uncategorized dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

5 Balasan ke Masa BerKurban?

  1. Urupa Chan berkata:

    hmmmm… Belum tau ilmunya mbak..mungkin :D… arisan kurban du kantor sebenernya program yang bagus bagi lajangwati yak mbak?? :mrgreen:

  2. rezaslash berkata:

    Insya Allah bentar lagi mbak…
    hehe..
    Maklum baru mulai bisnis kecil2an…
    Tulisan renungannya keren 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s